
SINGAPURA - Pemerintah Singapura mengeluarkan paket bantuan ekonomi senilai sekitar S$900 juta atau setara Rp12,6 triliun untuk membantu masyarakat dan pelaku usaha menghadapi dampak meningkatnya harga energi global.
Kebijakan tersebut diberikan sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang terdampak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pemerintah menilai kenaikan harga energi dapat memicu peningkatan biaya hidup, termasuk harga bahan bakar, listrik, dan barang impor.
Salah satu bentuk bantuan yang diberikan adalah voucher Community Development Council (CDC) senilai S$300 atau sekitar Rp4,2 juta untuk setiap rumah tangga. Voucher tersebut dapat digunakan masyarakat untuk berbelanja di toko-toko lokal maupun jaringan supermarket yang bekerja sama.
Selain bantuan untuk rumah tangga, pemerintah juga menyiapkan sejumlah dukungan bagi sektor usaha. Usaha kecil dan menengah yang mempekerjakan warga lokal akan mendapatkan hibah tunai minimal S$500 atau sekitar Rp7 juta. Pedagang yang beroperasi di pusat jajanan dan pasar juga mendapat bantuan biaya sewa hingga S$1.200 atau sekitar Rp16,8 juta.
Dari total dana yang disiapkan, sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan masyarakat, sementara sisanya diperuntukkan bagi dunia usaha. Program terbaru ini melengkapi bantuan sebelumnya sehingga total dukungan pemerintah Singapura mencapai sekitar S$2 miliar.
Menteri Kedua Keuangan Singapura, Jeffrey Siow, menyampaikan bahwa kondisi global masih menghadapi ketidakpastian meskipun risiko terburuk dari konflik Timur Tengah berhasil dihindari. Menurutnya, harga energi dunia diperkirakan masih berada pada tingkat tinggi dan dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi.
"Pemerintah memperkirakan biaya energi tetap meningkat dan hal tersebut berpotensi berdampak pada harga bahan bakar, listrik, serta berbagai produk impor," ujar Siow.
Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Singapura masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai 6,3 persen dan diperkirakan tetap kuat pada kuartal berikutnya berkat investasi yang meningkat, terutama di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI).
Namun, pemerintah menilai pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang lebih rentan menghadapi kenaikan biaya operasional dan gangguan rantai pasok. Karena itu, sejumlah skema dukungan pembiayaan juga diperluas untuk membantu perusahaan bertahan.
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, mengatakan bantuan tambahan ini diberikan karena situasi internasional masih belum stabil. Ia berharap langkah tersebut dapat membantu masyarakat dan bisnis menghadapi masa penuh ketidakpastian.
Selain bantuan langsung, pemerintah juga menaikkan porsi jaminan risiko pinjaman bagi beberapa skema pembiayaan bisnis dari 50 persen menjadi 70 persen. Dukungan pembiayaan proyek konstruksi dalam negeri juga diperluas untuk menjaga aktivitas ekonomi.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |