
SINGAPURA - Otoritas Moneter Singapura (MAS) kembali mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter sebagai respons terhadap meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia. Keputusan ini merupakan pengetatan kedua yang dilakukan secara beruntun setelah kebijakan serupa pada April 2026.
MAS memilih menaikkan sedikit laju apresiasi nilai tukar efektif nominal dolar Singapura (S$NEER), sementara lebar pita kebijakan dan titik tengahnya tidak mengalami perubahan. Berbeda dengan banyak bank sentral yang mengandalkan suku bunga sebagai instrumen utama, MAS mengelola kebijakan moneternya melalui pengaturan nilai tukar mata uang.
Meski inflasi di Singapura masih tergolong terkendali, bank sentral menilai tekanan harga berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Inflasi inti tercatat sebesar 1,6% pada Juni 2026, naik dari 1,4% pada Mei, sedangkan inflasi umum mencapai 1,9%.
Menurut analisis BMI dari Fitch Solutions, kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga energi belum sepenuhnya tercermin pada harga barang dan jasa. Dampaknya diperkirakan baru akan terasa secara bertahap sehingga tekanan inflasi masih berpotensi meningkat.
Sebagai negara yang bergantung pada impor energi, Singapura sangat rentan terhadap gejolak harga minyak global. Kenaikan harga minyak Brent hingga menembus US$100 per barel dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Di sisi lain, perekonomian Singapura masih menunjukkan performa yang kuat. Produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026 tumbuh 5,7% secara tahunan, melampaui perkiraan analis maupun target pemerintah. Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh tingginya permintaan global terhadap produk elektronik dan semikonduktor yang didorong perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |