
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menilai perekonomian Indonesia masih belum efisien. Hal itu tercermin dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di kisaran 6,5.
Dalam peringatan Harlah ke-28 PKB, Kamis (23/7/2026), Prabowo menjelaskan bahwa tingginya angka ICOR menunjukkan Indonesia membutuhkan biaya yang lebih besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dibandingkan sejumlah negara tetangga yang memiliki ICOR sekitar 3 hingga 4.
Menurutnya, inefisiensi tersebut disebabkan oleh kebocoran anggaran, birokrasi yang kurang efektif, serta praktik penggelembungan harga dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Ia memperkirakan kebocoran anggaran dapat mencapai sekitar 30 persen dari total belanja negara.
Prabowo menegaskan pemerintah terus melakukan langkah efisiensi anggaran untuk menekan kebocoran tersebut. Hasil penghematan, menurutnya, telah digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan infrastruktur, termasuk ribuan jembatan yang ditargetkan selesai hingga akhir 2026.
Pemerintah berkomitmen melanjutkan upaya reformasi pengelolaan anggaran agar penggunaan keuangan negara menjadi lebih efektif dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |